KEFAMENANU, iNewsTTU.id – Fenomena semburan lumpur (mud volcano) di Desa Napan, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menarik perhatian publik.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Cabang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Kabupaten TTU, Ewaldetrudis Sikas, ST, memberikan penjelasan teknis mengenai penyebab dan potensi risiko di lokasi tersebut.
Ewaldetrudis menjelaskan bahwa secara geologis, semburan di Desa Napan adalah fenomena alamiah yang dikenal dengan istilah Mud Diapir atau Mud Volcano. Fenomena ini berupa intrusi massa lumpur, air, dan gas dari bawah tanah menuju permukaan.
"Ini terjadi akibat adanya perbedaan tekanan yang berlebih dan daya apung di bawah permukaan tanah yang sangat kuat, yang berkaitan erat dengan aktivitas tektonik di Pulau Timor," ungkap Ewaldetrudis dalam keterangan tertulisnya kepada iNewsTTU.id, Rabu, 6/1/2026.
Kronologi Terjadinya Semburan
Berdasarkan tinjauan geologis, proses ini bermula dari pengendapan material lumpur dan sedimen yang kaya akan fluida serta gas dalam sebuah cekungan. Material ini kemudian tertimbun oleh lapisan batuan di atasnya secara cepat, sehingga gas dan air terjebak dan menciptakan tekanan besar.
Karena massa lumpur memiliki kepadatan (densitas) yang lebih rendah dibandingkan batuan di sekitarnya, lumpur tersebut memiliki daya apung untuk bergerak ke atas.
"Ketika terjadi patahan atau sesar akibat aktivitas tektonik, itulah yang menjadi jalan keluar bagi lumpur bertekanan tinggi tersebut hingga menyembur ke permukaan dan membentuk gundukan menyerupai gunung api atau Mud Volcano," tambahnya.
Waspada Dampak Lingkungan dan Pemukiman
Meskipun lumpur yang keluar di Desa Napan diketahui memiliki suhu yang rendah (dingin), pihak Dinas ESDM mengingatkan masyarakat akan adanya potensi dampak lingkungan jangka panjang.
Ewaldetrudis mencatat setidaknya ada 38 titik semburan yang ditemukan di Desa Napan, dan jumlah ini diprediksi masih bisa bertambah.
Beberapa risiko yang perlu diwaspadai antara lain:
-Stabilitas Bangunan: Karena muncul di jalur patahan, bangunan di sekitar lokasi semburan sangat rentan terhadap kerusakan struktur.
-Kerusakan Lahan: Aliran lumpur yang terus-menerus, meski intensitasnya kecil, dapat meluas dan mengganggu area pemukiman serta lahan pertanian warga.
-Penurunan Tanah (Subsiden): Keluarnya massa lumpur secara terus-menerus menciptakan rongga di bawah tanah, yang berisiko mengakibatkan amblesnya permukaan tanah di masa depan.
-Gangguan Ekosistem: Limpasan lumpur berpotensi merusak ekosistem lokal di sekitar lokasi semburan.
Dinas ESDM TTU terus memantau perkembangan fenomena ini dan menghimbau warga di sekitar lokasi untuk tetap waspada terhadap perubahan aktivitas semburan serta memperhatikan kondisi bangunan mereka.
Editor : Sefnat Besie
Artikel Terkait
