Ramos Horta Ungkap Kunci Perdamaian Timor Leste, Soroti Konflik Palestina'-Israel hingga Myanmar
JAKARTA, iNewsTTU.id – Presiden ke 4 dan ke 7 Timor Leste Jose Ramos-Horta membagikan pandangannya mengenai rekonsiliasi nasional, penyelesaian konflik internasional, hingga tantangan yang dihadapi kawasan Asia Tenggara dalam sebuah diskusi mendalam disampaikan dalam diskusi yg di adakan ERIA School of Government di Kantor ERIA Sentral Senayan, baru-baru ini.
Peraih Nobel Perdamaian tersebut menegaskan bahwa perdamaian tidak selalu harus ditempuh melalui jalur pengadilan atau penghukuman terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam konflik masa lalu.
Menurutnya, pengalaman Timor Leste menunjukkan bahwa rekonsiliasi dan keberanian untuk melihat masa depan menjadi fondasi penting dalam membangun bangsa pascakonflik.
Ramos-Horta mengungkapkan bahwa setelah Timor Leste meraih kemerdekaan, pemerintah memilih pendekatan rekonsiliasi dengan Indonesia dibandingkan membawa seluruh persoalan masa lalu ke proses hukum yang berkepanjangan.
“Jika kami mulai mengadili semua orang yang pernah berada di pihak berbeda, lalu dari mana kami harus memulainya?” ujarnya, mengingat pandangan yang juga pernah disampaikan tokoh kemerdekaan Timor Leste, Xanana Gusmao.
Menurut Ramos-Horta, pengalaman sejumlah negara seperti Portugal dan Spanyol menunjukkan bahwa transisi menuju demokrasi tidak selalu bergantung pada pembentukan tribunal khusus untuk mengadili pelanggaran masa lalu.
Dalam kesempatan tersebut, Ramos-Horta juga menyoroti konflik yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia, termasuk konflik Israel-Palestina. Ia menilai tidak ada pihak yang benar-benar akan memperoleh kemenangan melalui perang yang berkepanjangan.
“Solusi dua negara tetap menjadi jalan yang paling realistis untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan,” katanya.
Ia menekankan bahwa masyarakat Palestina maupun Israel pada dasarnya memiliki tradisi kemanusiaan yang kuat. Karena itu, menurutnya, dialog dan keberanian politik menjadi kunci untuk mengakhiri siklus kekerasan yang terus berulang.
Selain membahas Timur Tengah, Ramos-Horta juga berbagi pengalaman saat bertugas sebagai utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Guinea-Bissau dan terlibat dalam berbagai upaya mediasi konflik internasional, termasuk di Kolombia.
Dari berbagai pengalaman tersebut, ia menyimpulkan bahwa pencegahan konflik harus menjadi prioritas utama para pemimpin dunia. Ramos-Horta menilai banyak perang dan krisis kemanusiaan sebenarnya dapat dicegah apabila diplomasi dijalankan secara serius sejak awal.
Mengenai kawasan Asia Tenggara, Ramos-Horta memberikan apresiasi terhadap perkembangan ASEAN yang dinilainya berhasil menjaga stabilitas kawasan yang sangat beragam selama puluhan tahun.
Meski demikian, ia mengakui bahwa krisis politik di Myanmar masih menjadi tantangan besar bagi ASEAN. Namun, respons organisasi kawasan tersebut terhadap kudeta militer Myanmar menunjukkan adanya perkembangan penting dalam prinsip dan komitmen ASEAN terhadap demokrasi serta stabilitas regional.
“ASEAN telah berkembang jauh dan menjadi salah satu organisasi regional paling berhasil di dunia,” ujarnya.
Ramos-Horta menutup pandangannya dengan menegaskan bahwa perdamaian, rekonsiliasi, dan pencegahan konflik harus terus menjadi prioritas utama komunitas internasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar