Kisah Perjuangan Benedikta Berakhir, Kala Prabowo Wujudkan Jembatan Gantung di Kiuola NTT
KEFAMENANU, iNewsTTU.id--Suara kokok ayam saling sahut di atas pohon belakang rumah membuat Benedikta terbangun dari Tidurnya. Jarum jam dinding pagi itu menunjukan pukul 05: 30 waktu Indonesia bagian Tengah, saatnya ia bersiap ke sekolah.
Usai mandi dan makan pagi, Benedikta mengemasi barang bawaanya seperti tas buku, payung dan sepatu yang telah dimasukan dalam sebuah kantong kresek berwarna merah agar tidak basah.
Cuaca pagi itu tak bersahabat, rintik hujan terus bertambah jadi deras membuat hati Benedikta berkecamuk dan cemas, payung setengah usang pemberian ibu digenggam erat sembari berjalan keluar dari pintu gubuknya tepat pukul 6:00 wita.
Benedikta Kosat adalah siswa kelas XII pada SMK Katolik St. gabriel Noemuti. Jarak dari rumahnya di Dusun II, Desa Kiuola, Kecamatan Noemuti ke sekolah hampir 4 km dan untuk menuju sekolahnya ia tempuh dengan berjalan kaki selama 1 jam.
Sambil menenteng sepatu, langkahnya tegas menembus genangan air di sisi kiri dan kanan jalan sejauh 500 meter dari rumah ke bibir sungai, setibanya di bibir sungai ia mulai menguatkan hati dan bersiap bertaruh nyawa melintasi sungai Kiuola di Desa Kiuola.

Di bibir sungai, sudah ada ratusan siswa SLTA, SMK dan Siswa SD sedang mengantre untuk menyeberang, jari-jemari saling pegang erat, siswa yang bertubuh besar melindungi yang kecil, mereka melangkah dengan was-was namun tetap fokus.
Lebar sungai yang mereka lintasi cukup luas sekira 80 meter, maka tak heran ada orangtua juga yang membantu menyeberangkan anak mereka yang masih usia Sekolah Dasar.
Benedikta berjalan paling belakang, dalam benak Benedikta masih tersimpan dimemori otaknya tentang pesan ibu agar berhati-hati saat melintas sungai karena cerita ibunya puluhan tahun silam, ada beberapa siswa sempat terseret banjir hingga meninggal dunia di sungai itu.
Setelah melintasi sungai berarus deras, ia kembali melanjutkan perjalanan menyusuri perkampungan di seberang sungai itu sejauh 3, 5 kilometer lagi dengan berjalan kaki dan tiba tepat pukul 7.00 wita di Sekolahnya.
Kisah perjuangan Benedikta dialaminya sejak 3 tahun terakhir saat ia memutuskan untuk bersekolah di Noemuti. Selain Benedikta, ada ratusan siswa dari SMK Negeri Seo dan SD Katolik Noemuti alami kondisi serupa.
"Kalau cuaca cerah ya kami bernafas lega, tapi kalau sudah mulai mendung, kami mulai kuatir dan was-was, soalnya selain hujan dan menerjang banjir, kami harus tempuh jalan selama 1 jam baru sampai di sekolah, kami dambakan sebuah jembatan,'Kisah Benedikta.
Bahkan ratusan warga setempat, kala hujan tiba mereka harus menyeberang sungai dengan risiko saat musim hujan seperti, petani, ibu hamil, distribusi bahan makanan dari kebun.
Potret perjuangan ini menjadi pengingat pedih akan terbatasnya infrastruktur di wilayah pelosok Kabupaten Timor Tengah Utara NTT yang berbatasan dengan Distrik Oekuse Timor Leste.

Pagi itu, Senin tanggal 30 maret 2026 adalah hari bersejarah bagi warga Desa Kiuola, Setelah sekian lama terisolasi dan bergantung pada jalur ekstrem, ratusan siswa dan warga akhirnya menyaksikan dimulainya pembangunan jembatan gantung perintis garuda. kondisi ini bagai pepatah Pucuk dicinta ulam tiba.
Groundbreaking jembatan gantung Garuda dilakukan langsung oleh Danrem 161/Wirasakti Kupang, Brigjen TNI Hendro Cahyono didampingi oleh Dandim 1618/TTU Letkol Arm Didit Prasetyo Purwanto.
Ratusan masyarakat Desa Kiuola termasuk Benedikta dan rekan-rekannya pun hadir menyaksikan peletakan batu pertama pembangunan jembatan gantung pemberian Presiden RI Prabowo Subianto.
Danrem 161 Wira Sakti menyatakan bahwa dari total 24 jembatan gantung bantuan Presiden di wilayah Kodam IX/Udayana, Korem 161/Wirasakti Kupang memperoleh 13 unit yang tersebar di sejumlah Kabupaten di Provinsi NTT.
Jembatan Perintis ini dibangun dengan panjang 80 meter dan lebar 1.20 meter, panjang jembatan itu disesuaikan dengan lebar sungai Kiuola.
"Untuk bantuan jembatan Perintis Garuda dari Bapak Presiden pada wilayah Kodam Udayana ada 24 unit sedangkan di Wilayah Korem 161 ada 13 termasuk saat ini kita grounbreaking di TTU,"pungkas orang nomor satu di Korem 161 Wira sakti.
Usai groundbreaking, prajurit Kodim 1618 TTU dan tim konstruksi jembatan gantung atau tim Vertical Rescue Indonesia dibantu ratusan warga Desa Kiuola bergotong royong melakukan pembangunan jembatan sepanjang 80 meter.
Deru mesin excavator memecahkan kesunyian di hamparan kali Kiuola saat menggali tiang pancang disertai percikan api alat las besi penyangga mengawali pembangunan jembatan gantung pertama di wilayah perbatasan NTT dengan distrik Oekusi Timor leste.
Seiring waktu berjalan, progres pembangunan jembatan perintis hampir selesai.
Gaudensiana Kornelis Kepala Sekolah Katolik, (SDK) Kiuola menceritakan kehadiran Jembatan Garuda membawa angin segar bagi sebagian besar anak didiknya termasuk para guru, sebab kala hujan turun, banjir penuh sehingga menyulitkan guru maupun siswa.
Ia mengenang kembali, dulu pernah siswa diliburkan berhari-hari karena saat Badai Siklon Tropis Seroja menerjang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada awal April 2021, dengan puncak dampak bencana terjadi pada 4 hingga 5 April 2021.
" Hari ini kami sangat bersyukur karena Pak Prabowo membantu kesulitan dengan menghadirkan jembatan Garuda, kami guru dan siswa sangat senang, akses menuju sekolah lancar, jika tidak maka kami pasti tetap berjuang menerjang banjir,"kisahnya.
Jembatan perintis Garuda sepanjang 80 meter yang menghubungkan Dusun II dan Dusun III ke wilayah Dusun I Desa Kiuola Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara NTT adalah harapan besar kepala Desa setempat.
Kepala Desa Kiuola, Primus Rusae menyebut adanya jembatan ini sangat dinantikan oleh 702 jiwa yang mendiami dusun II dan III di Kiuola yang selama 80 tahun terisolasi kala musim hujan tiba.
"Masyarakat di sini nantikan jembatan ini selama 80 tahun, jembatan ini juga menghubungkan beberapa Desa tetangga seperti Desa Banafanu Desa Seo dan Desa Noebaun yang memiliki sawah di Desa Kiuola,"ungkapnya.

Orang nomor satu di Desa Kiuola menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Presiden Prabowo, KSAD, Pangdam Udayana, Danrem 161 Wirasakti juga Dandim 1618 Timor Tengah Utara sebab hadirnya jembatan Garuda merubah pola hidup masyarakat dari keterbatasan akses.
"Hadirnya jembatan Garuda ini membuat kehidupan masyarakat berubah drastis, sekarang ini dampaknya akses ekonomi lebih mudah, pendidikan lebih lancar anak-anak tidak lagi menerjang banjir, kesehatan lebih cepat tertangani dan membuka isolasi wilayah,"pungkasnya.
Kisah perjuangan ratusan siswa sekolah dari Dusun II dan III yang mengeyam pedidikan di SMK Negeri Seo, SMK Katolik St. gabriel Noemuti dan SD Katolik Noemuti segera berakhir.
Benedikat, salah satu siswi SMK merasa terharu melihat pembangunan jembatan itu hampir selesai, wajah Benedikta diliputi rasa senang.
Tak terasa, butiran air mata menetes di pipinya ia mengenang kembali kisah perjuangan mereka setiap pagi ke sekolah maupun pulang sekolah, bagi Benedikta hadirnya Jembatan yang diberikan oleh Presiden Prabowo sekaligus mengakhiri derita mereka menerjang banjir.
Editor : Sefnat Besie